Tak terasa, sudah tepat dua dekade lamanya sosok legendaris Eric Cantona melakoni laga terakhirnya di dunia sepak bola. Hari ini, 12 Mei (waktu Indonesia) 20 tahun yang lalu

Tak terasa, sudah tepat dua dekade lamanya sosok legendaris Eric Cantona melakoni laga terakhirnya di dunia sepak bola. Hari ini, 12 Mei (waktu Indonesia) 20 tahun yang lalu

Tak terasa, sudah tepat dua dekade lamanya sosok legendaris Eric Cantona melakoni laga terakhirnya di dunia sepak bola. Hari ini, 12 Mei (waktu Indonesia) 20 tahun yang lalu

Eric Cantona melakoni laga pamungkas dalam balutan seragam Manchester United (MU).

Sebenarnya, tidak ada yang mengetahui pertandingan melawan West Ham United di Old Trafford saat itu merupakan laga terakhir Cantona. Seluruh fan baru terperanjat ketika mendengar kabar Cantona pensiun sepekan setelah laga pekan terakhir di Liga Primer Inggris 1996/1997 itu usai.

Keputusan yang sangat mendadak ini meninggalkan memori mendalam bagi pecinta MU khususnya yang rajin hadir di Theatre of Dreams setiap pekannya. Tak ada yang menyangka, laga melawan West Ham jadi momen terakhir mereka menyanyikan lagu ‘King Cantona’ dengan sang legenda mendengarnya di atas lapangan.

Padahal, pertandingan melawan the Hammers kala itu jadi laga yang sanggup menawar luka bagi fan MU. Itu karena dua pekan sebelumnya harus kecewa akibat MU disingkirkan Borussia Dortmund di semifinal Liga Champions.

Kemenangan 2-0 atas West Ham membuat pesta perayaan angkat piala juara Liga Primer Inggris semakin terasa sempurna. Dengan jabatannya sebagai kapten, Cantona jadi orang pertama yang mengangkat trofi pada perayaan tersebut.

Cantona memang tidak mencetak gol saat itu. Tetapi, umpannya pada menit ke-84 membuat Jordi Cryuff, anak dari legenda sepak bola dunia Johan Cryuff mencetak gol. Kebetulan, saat itu Johan hadir di Old Trafford dan ikut semringah dengan kemenangan United.

Tanda-tanda pensiunnya Cantona sama sekali tak terendus. Belakangan kemudian terkuak, hanya Sir Alex Ferguson, pelatih MU yang saat itu tahu rencana pensiun Cantona.

Bisa ditebak, Sir Alex mati-matian menahan agar pemain yang dibeli dari Leeds United pada tahun 1992 ini mau tetap bertahan. Tetapi Cantona tetap dalam pendiriannya untuk pergi dari Old Trafford dan juga meninggalkan dunia yang sudah membesarkan namanya, sepak bola.

Usaha Sir Alex membujuk Cantona via sang ayah memang tak membuahkan hasil. Tapi sepercik jawaban didapatkan mengenai alasan keputusan Cantona yang tiba-tiba memilih untuk pensiun.

Padahal saat itu usianya baru menginjak 30 tahun. Permainannya pun semakin matang. Belum lagi ban kapten yang baru semusim melingkar di tangannya. Tapi semua tak bisa mencegah Cantona.

Diduga kuat, Cantona sangat kecewa dengan ketidakmampuannya memimpin MU untuk menembus final Liga Champions 1996/1997. Kekalahan 0-1 baik pada leg pertama dan kedua atas Dortmund membuat Cantona sangat terpukul.

Sebagai raja di Inggris kala itu, Cantona selalu menilai sudah saatnya MU jadi kampiun di Benua Biru. Keyakinannya kian kuat ketika dipercaya menjadi kapten setelah Steve Bruce hengkang ke Birmingham City pada pertengahan tahun 1996.

Sayang, keyakinan sang fenomenal harus kandas dan membuat ia terluka hingga memutuskan pergi dari dunia sepak bola selamanya, setidaknya, sampai 20 tahun ke depan hingga hari ini. Ya, entah rasa sakit seperti apa yang Cantona rasakan. Tetapi setelah memutuskan pensiun, tak sedikitpun sosok asal Prancis ini menyentuh dunia yang sama.

Ia malah kemudian dikenal sebagai aktor dengan membintangi sejumlah film. Cantona baru kemudian terdengar dekat dengan si kulit bundar ketika menangani timnas Prancis. Tapi itu bukan di dunia sepak bola seperti yang pertama ia geluti 1983 silam. Pada 2005, Cantona berhasil mengantarkan timnas sepak bola pantai Prancis jadi juara dunia.

Memahami betapa besarnya Cantona di dunia sepak bola memang tak bisa dengan membaca statistik kariernya sebagai acuan. Berposisi striker, tepatnya penyerang lubang, catatan gol Cantona memang tidak terlalu wah. Akan tetapi, Cantona adalah penancap lahirnya era baru sepak bola di Inggris yang kita kenal sekarang.

Sejak dulu, masyarakat Inggris memang tak terlalu suka dengan sesuatu yang berbau asing. Itulah mengapa, puncaknya tahun lalu Brexit terjadi. Kondisi geografis kepulauan yang terpisah lautan dari negara-negara Eropa lainnya membuat masyarakat Inggris memiliki dunia sendiri.

Sumber:Republika.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *